Juli 25, 2024

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan melemah menuju level Rp 16.000. Rupiah diperkirakan akan terus berada dalam tekanan sampai dengan akhir Oktober 2023. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, beberapa faktor global akan menjadi penyebab utama Rupiah cenderung terdepresiasi. Indikator indikator ekonomi Amerika Serikat terkini, seperti pasar tenaga kerjanya, masih menunjukkan kondisi yang resilient. "Sehingga tingkat inflasinya meski menurun namun tetap cenderung stubborn atau berada di atas sasaran target yang sebesar 2 persen," ujar Josua saat dihubungi Selasa (24/10/2023).

Selain itu, konflik Israel Hamas yang semakin memanas juga meningkatkan tensi geopolitik pada kawasan Timur Tengah, sehingga menaikkan harga minyak dunia yang berujung pada ekspektasi semakin sulitnya inflasi global untuk turun secara persisten. "Hal tersebut menyebabkan risiko “higher for longer” meningkat, dengan ruang kenaikan suku bunga kebijakan the Fed masih akan terbuka di sisa tahun ini," kata Josua. Kondisi tersebut akan memicu sentimen risk off investor dan mengalihkan dananya ke aset safe haven. Rupiah diprediksi sampai akhir Oktober 23 dapat berada pada rentang Rp15.700 – Rp15.900 per dolar AS.

"Indikator global penting yang sangat perlu di antisipasi adalah keputusan the Fed di pertemuan FOMC pada awal November 23. Jika tone dari stance the Fed masih cenderung hawkish maka tekanan pada rupiah dapat terus berlanjut," terang Josua. Hadiah BWF World Tour Finals 2023 Wakil Indonesia: Jojo Full Senyum, Modal Nikah Kembali Halaman 3 Rupiah Diprediksi Terus Melemah ke Level Rp 16.000, Sejumlah Sektor Akan Terdampak

Hasil Klasemen Liga Inggris: Manchester City Terpeleset, Arsenal dan Liverpool Umbar Senyum Halaman all Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Ditutup Melemah ke Level Rp 15.565 Rupiah Kembali Melemah Nyaris Sentuh Rp 16.000, Pasar Wait And See Pengumuman The Fed

Jepang Hibahkan Kapal Patroli Senilai 9,53 Miliar Yen untuk Indonesia Namun, jika cenderung dovish dan the Fed menyatakan ruang pemangkasan suku bunga terbuka tahun depan, Rupiah diprediksi akan mampu menguat ke kisaran Rp15.300 Rp15.600 pada akhir tahun 2023. "Dampak dari pelemahan rupiah yang cukup signifikan cenderung akan mempengaruhi inflasi mengingat harga barang barang impor cenderung akan meningkat," imbuh Josua.

Sektor sektor diperkirakan akan terdampak dari adanya pelemahan rupiah yakni sektor yang mengandalkan bahan baku impor. Seperti Makanan dan Minuman, terutama yang banyak bahan baku impor seperti Gandum, Gula, dan Kedelai, lalu sektor Farmasi, Elektronik dan Barang Elektrikal, dan Tekstil," ucap Josua. Pelemahan rupiah juga akan mendorong peningkatan harga dari produk manufaktur tersebut yang pada akhirnya akan mendorong peningkatan inflasi (imported inflation).

Meskipun demikian, pelemahan nilai tukar dalam beberapa bulan terakhir ini diperkirakan belum akan mendorong imported inflation mengingat tren harga di level pedagang besar, tercermin dari IHPB yang menurun dan ekspektasi harga di level produsen (indeks harga produsen) belum akan mendorong peningkatan. "Sehingga akan membatasi peningkatan imported inflation yang tercermin pada indeks harga konsumen," ucap Josua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *